SERI CATATAN PUASA KAKA QIYAN
El Qiyani Mahira Soleha (dokumentasi pribadi)
“Yah... besok kaka mau
kuasa”. Serunya
bersemangat sekali, ya puasa maksdunya. Dia adalah anak sulung ku, umurnya baru
4 tahun 2 bulan. Selalu aktif berkegiatan serta lincah dalam bergerak. Memiliki
rambut halus keriting yang agak pirang. Kini ia bersekolah di PAUD dekat rumah.
Panggilannya Kaka, karena dia anak pertama. Nama lengkapnya El Qiyani Mahira Soleha.
Tapi belakangan ini dia ingin dipanggil teteh.
Pada kamis malam sesaat setelah pengumuman sidang isbat disampaiakan pemerintah,
akupun bersiap-siap untuk shalat ke mesjid untuk melaksanakan shalat isya dan
di teruskan dengan shalat tarawih pertama pada bulan Ramadhan kali ini. Dengan
bersungut-sungut dia menuruni tangga sambil menggusur mukenanya “yahh.... kaka ikut”. Begitulah dia
kemanapun aku pergi selalu saja ingin ikut. Bahkan ketika aku jumatan pun dia
pasti ikut. Tapi dia nggak ikut kemesjid, dia menunggu di rumah neneknya yang
bersebelahan dengan mesjid. Namun jika saja ia diberi pengertian dan penjelasan
ia akan mengerti. Semisal sekarang, sedang ramai isu Corona. Ia akan bilang “takut corona, covid 19. Stay at home aja”.
Malam pertama shalat tarawih di mesjid selalu penuh sesak. Meskipun dalam
keadaan pandemi Covid 19, ini seakan tidak menjadi halangan buat masyarakat
untuk berduyun-duyun kemesjid menunaikan salat Isya berjamaah dan shalat
tarawih. Ini karena masyarakat di kampung ku bersepakat kegiatan peribadatan
tetap berjalan seperti biasa semisal shalat jumat dan mingguan. Ya, mingguan itu istilah untuk pengajian
rutin setiap seminggu sekali. Kami bersepakat bahwa yang menjalankan
peribadatan hanya masyarakat sekitar, jika ada tamu dari luar atau masyarakat
yang baru datang dari kota tidak diperbolehkan untuk turut berkegiatan dalam
beribadatan yang mengundang orang banyak. Alhamdulillah pada malam pertama
tarawih tersebut Kaka Qiyan selesaikan dengan baik, ya walaupun solat ala
anak-anak. Ia bersemangat karena banyak teman-tenam seusianya datang juga ke
mesjid.
........
Pukul 03.10 WIB alarm di ponsel ku berbunyi, sehingga membangunkanku dan
istri dari lelapnya malam. Sesaat kemudian aku mematikan alarm karena khawatir
si kecil Shanum terbangun. Kemudian aku bangun dan agak terhuyung menuju kamar
mandi. Ya mungkin karena belum terbiasa jadi terasa sangat berat sekali untuk
bangun santap sahur.
Setelah dari kamar mandi istriku bergegas ke kamar seberang yang di tempati
Kaka Qiyan. Alhamdulillah ia tidurnya sudah terpisah dengan kami. Ia menempati
kamarnya yang serba Frozen kesukaannya. Ia tidur sendiri dikamarnya atas
permintaanya sendiri, karena ia merasa sudah besar dan ingin mandiri katanya.
Awal mula ia tidur sendiri di kamarnya aku cukup was-was, sampai-sampai aku
harus menjaga kantuk ku setidaknya sampai jam 12 untuk memastikan dia tidur
dengan lelap. Namun ada yang unik ketia ia mau tidur sendiri, ia mengajukan
syarat agar di temenin ayah sebelum tidurnya. “Siap Bos” aku menyetujuinya.
Tanpa disangaka, ia sigap bangun, dan bersemangat bergegas ke kamar mandi
untuk cuci muka. Saking bersemangatnya mungkin, sehingga ia membuat adik
kecilnya terbangun. Ini karena memang kamar mandinya terletak di kamar tidur
kami dilantai 2. Ya, jadinya kita semua terbangun untuk santap sahur pertama
ini.
Beberapa saat kemudian istri ku turun kebawah untuk menyiapkan santap saur.
Saur pertama kami hanya ditemani krupuk dan sup tulang punggung sapi yang
dibubuhi bawang goreng, perasan jeruk limau, serta sedikit sambal yang membuat
mata kantuk jadi segar, serta satu gelas besar teh panas. Kami pun halap santap
sahurnya, ini memang tidak seperti biasanya. Karena ramadhan tahun lalu hanya
kami berdua yang santap sahur, Kaka Qiyan masih belum ikut bangun, apalagi si
kecil Shanum.
Tadinya aku sangat menghawatirkan seandainya santap sahurnya Kaka Qiyan gak
lancar karena belum pernah ikut santap sahur pada Ramadhan sebelumnya. Tapi
semua itu Alhamdulillah tidak terjadi, ia pun lahap menyantap hidangan yang ada
di depannya. Belakangan aku baru tau, ada motivasi lain yang membuatnya
bersemangat. Ia tidak sabar setelah santap saur ingin menonton kartun
kesukaanya. Nussa dan Rara, itu kartun kesukaan Kaka Qiyan dan si kecil Shanum
juga sudah mulai menyukainya walaupun iya baru berusia 1 tahun 4 bulan.
Pukul 04.30 adzan subuh berkumandang dan sekaligus dilumainya puasa nutuk
hari pertama di Ramadhan ini. Nah,,, berbarengan pula dengan mulainya kartun
Nussa dan Rara. Sebelum berangkat kemesjid aku berpesan ke Kaka Qiyan, suapaya
Shalat subuh dulu ketika acara kartun berselang dengan Iklan. Aku pun bergegas
ke mesjid untuk shalat subuh dan tadarus sebentar.
Sepulang dari mesjid aku dapati muka masam Kaka Qiyan. Cemberut dan kecewa.
Ada genangan air mata di sudut matanya. “Ada
apa gerangan?” gumamku. Usul punya usul dia kecewa karena kartun Nussa dan
Raranya hanya sebentar. Menangis menumpahkan kekecewaanya sampai akhirnya
terlelap didepan TV. Aku sengaja membiarkannya. Kaka Qiyan tidak aku pindahkan
ke kamarnya, khawatir ia bangun lagi.
Aku pun masuk ke kamarnya Kaka Qiyan untuk rebahan dan membuka beberapa WA
yang masuk, dan ternyata cukup banyak, ada 108 chat yang masuk. Sengaja aku
pilih rebahan di kamarnya Kaka Qiyan karena khawatir mengganggu si kecil Shanum
yang sedang dibobokan lagi oleh istriku. Juga pagi itu turun hujan yang cukup
deras. Alhamdulillah semoga membawa berkah di hari pertama puasa ini.
“Yah... Yah.... mau ini, punten
bukain” seketika aku
terperanjat, karena aku terlelap dan tertidur lagi. Aku perjelas pandanganku ke
arah benda yang di bawa oleh Kaka Qiya. Ohhh..... ternyata rupanya Kaka Qiyan
tergoda oleh kelezatan iklah di TV, ya kue Monde yang memang delicious. Seketika aku pun tertawa
kecil. ”kan Kaka Kuasa, gak boleh makan
dan minum dulu sebelum magrib” jawabku. “oh
iya kaka kan kuasa”. Jawabnya sambil agak malu-malu. Dan Alhamdulillah dia
dapat melanjutkan puasanya. Aku tidak memaksanya untuk puasa kali ini. Tapi aku
coba untuk mengajarinya. Sampai mana kemampuannya.
Sesaat hujan pun reda, mentari menampakan wajahnya ke permukaan cakrawala.
Cahanya masuk ke sela-sela balkon depan rumah kami. Rengekan minta jajan mulai
meluncur dari mulut mungil Kaka Qiyan, jam baru menunjukan pukul 09.17. ”kan Kaka Kuasa” Aku coba untuk
mengingatkan. “oh iya kaka kan kuasa”. Jawabnya
singkat sambil menonton kembali filem kartun TV.
........
“Yah,,,, kaka mau makan” sahutnya ketika aku baru membuka pintu rumah
setelah pulang shalat Jumat. “Kaka buka
dulu ya,,,, nanti kuasa lagi” lanjutnya. Penyataannya itu sontak membuatku
tertawa. “iya, ayo makan. Ayah panggil
ibu dulu” jawabku sambil naik ke atas menuju kamarku.
Aku tidak memaksakan untuknya terus berpuasa. Jam 12.45 ia makan dan
berbuka puasa untuk puasa pertamanya. Alhamdulillah dengan kesadarannya dan
entah ada motivasi lain iya mau belajar berpuasa. Semoga Alloh meridoi dan
menjadikannya anak yang solehah sebagaiman dengan nama yang disandangnya.
Aamiin.....

Berlatih sejak dini..good
BalasHapusBismillah
Rabu, 08 Juli 2020, Postingan ke-418. Mohon doanya satu hari satu postingan di blog
www.sarastiana.com
Google Adsense di Bawah 1 Dollar?
http.sarastiana googleAdsense.com
Metode Pembelajaran Sosiodrama
www.sosiodrama.com
Model dan Metode Pembelajaran http://www.modelpembelajaran