Jumat, 24 April 2020

PUASA HARI PERTAMA KAKA QIYAN


SERI CATATAN PUASA KAKA QIYAN
El Qiyani Mahira Soleha (dokumentasi pribadi)

“Yah... besok kaka mau kuasa”. Serunya bersemangat sekali, ya puasa maksdunya. Dia adalah anak sulung ku, umurnya baru 4 tahun 2 bulan. Selalu aktif berkegiatan serta lincah dalam bergerak. Memiliki rambut halus keriting yang agak pirang. Kini ia bersekolah di PAUD dekat rumah. Panggilannya Kaka, karena dia anak pertama. Nama lengkapnya El Qiyani Mahira Soleha. Tapi belakangan ini dia ingin dipanggil teteh.
Pada kamis malam sesaat setelah pengumuman sidang isbat disampaiakan pemerintah, akupun bersiap-siap untuk shalat ke mesjid untuk melaksanakan shalat isya dan di teruskan dengan shalat tarawih pertama pada bulan Ramadhan kali ini. Dengan bersungut-sungut dia menuruni tangga sambil menggusur mukenanya “yahh.... kaka ikut”. Begitulah dia kemanapun aku pergi selalu saja ingin ikut. Bahkan ketika aku jumatan pun dia pasti ikut. Tapi dia nggak ikut kemesjid, dia menunggu di rumah neneknya yang bersebelahan dengan mesjid. Namun jika saja ia diberi pengertian dan penjelasan ia akan mengerti. Semisal sekarang, sedang ramai isu Corona. Ia akan bilang “takut corona, covid 19. Stay at home aja”.
Malam pertama shalat tarawih di mesjid selalu penuh sesak. Meskipun dalam keadaan pandemi Covid 19, ini seakan tidak menjadi halangan buat masyarakat untuk berduyun-duyun kemesjid menunaikan salat Isya berjamaah dan shalat tarawih. Ini karena masyarakat di kampung ku bersepakat kegiatan peribadatan tetap berjalan seperti biasa semisal shalat jumat dan mingguan. Ya, mingguan itu istilah untuk pengajian rutin setiap seminggu sekali. Kami bersepakat bahwa yang menjalankan peribadatan hanya masyarakat sekitar, jika ada tamu dari luar atau masyarakat yang baru datang dari kota tidak diperbolehkan untuk turut berkegiatan dalam beribadatan yang mengundang orang banyak. Alhamdulillah pada malam pertama tarawih tersebut Kaka Qiyan selesaikan dengan baik, ya walaupun solat ala anak-anak. Ia bersemangat karena banyak teman-tenam seusianya datang juga ke mesjid.
........
Pukul 03.10 WIB alarm di ponsel ku berbunyi, sehingga membangunkanku dan istri dari lelapnya malam. Sesaat kemudian aku mematikan alarm karena khawatir si kecil Shanum terbangun. Kemudian aku bangun dan agak terhuyung menuju kamar mandi. Ya mungkin karena belum terbiasa jadi terasa sangat berat sekali untuk bangun santap sahur.
Setelah dari kamar mandi istriku bergegas ke kamar seberang yang di tempati Kaka Qiyan. Alhamdulillah ia tidurnya sudah terpisah dengan kami. Ia menempati kamarnya yang serba Frozen kesukaannya. Ia tidur sendiri dikamarnya atas permintaanya sendiri, karena ia merasa sudah besar dan ingin mandiri katanya. Awal mula ia tidur sendiri di kamarnya aku cukup was-was, sampai-sampai aku harus menjaga kantuk ku setidaknya sampai jam 12 untuk memastikan dia tidur dengan lelap. Namun ada yang unik ketia ia mau tidur sendiri, ia mengajukan syarat agar di temenin ayah sebelum tidurnya. “Siap Bos” aku menyetujuinya.
Tanpa disangaka, ia sigap bangun, dan bersemangat bergegas ke kamar mandi untuk cuci muka. Saking bersemangatnya mungkin, sehingga ia membuat adik kecilnya terbangun. Ini karena memang kamar mandinya terletak di kamar tidur kami dilantai 2. Ya, jadinya kita semua terbangun untuk santap sahur pertama ini.
Beberapa saat kemudian istri ku turun kebawah untuk menyiapkan santap saur. Saur pertama kami hanya ditemani krupuk dan sup tulang punggung sapi yang dibubuhi bawang goreng, perasan jeruk limau, serta sedikit sambal yang membuat mata kantuk jadi segar, serta satu gelas besar teh panas. Kami pun halap santap sahurnya, ini memang tidak seperti biasanya. Karena ramadhan tahun lalu hanya kami berdua yang santap sahur, Kaka Qiyan masih belum ikut bangun, apalagi si kecil Shanum.
Tadinya aku sangat menghawatirkan seandainya santap sahurnya Kaka Qiyan gak lancar karena belum pernah ikut santap sahur pada Ramadhan sebelumnya. Tapi semua itu Alhamdulillah tidak terjadi, ia pun lahap menyantap hidangan yang ada di depannya. Belakangan aku baru tau, ada motivasi lain yang membuatnya bersemangat. Ia tidak sabar setelah santap saur ingin menonton kartun kesukaanya. Nussa dan Rara, itu kartun kesukaan Kaka Qiyan dan si kecil Shanum juga sudah mulai menyukainya walaupun iya baru berusia 1 tahun 4 bulan.
Pukul 04.30 adzan subuh berkumandang dan sekaligus dilumainya puasa nutuk hari pertama di Ramadhan ini. Nah,,, berbarengan pula dengan mulainya kartun Nussa dan Rara. Sebelum berangkat kemesjid aku berpesan ke Kaka Qiyan, suapaya Shalat subuh dulu ketika acara kartun berselang dengan Iklan. Aku pun bergegas ke mesjid untuk shalat subuh dan tadarus sebentar.
Sepulang dari mesjid aku dapati muka masam Kaka Qiyan. Cemberut dan kecewa. Ada genangan air mata di sudut matanya. “Ada apa gerangan?” gumamku. Usul punya usul dia kecewa karena kartun Nussa dan Raranya hanya sebentar. Menangis menumpahkan kekecewaanya sampai akhirnya terlelap didepan TV. Aku sengaja membiarkannya. Kaka Qiyan tidak aku pindahkan ke kamarnya, khawatir ia bangun lagi.
Aku pun masuk ke kamarnya Kaka Qiyan untuk rebahan dan membuka beberapa WA yang masuk, dan ternyata cukup banyak, ada 108 chat yang masuk. Sengaja aku pilih rebahan di kamarnya Kaka Qiyan karena khawatir mengganggu si kecil Shanum yang sedang dibobokan lagi oleh istriku. Juga pagi itu turun hujan yang cukup deras. Alhamdulillah semoga membawa berkah di hari pertama puasa ini.
“Yah... Yah.... mau ini, punten bukain” seketika aku terperanjat, karena aku terlelap dan tertidur lagi. Aku perjelas pandanganku ke arah benda yang di bawa oleh Kaka Qiya. Ohhh..... ternyata rupanya Kaka Qiyan tergoda oleh kelezatan iklah di TV, ya kue Monde yang memang delicious. Seketika aku pun tertawa kecil. ”kan Kaka Kuasa, gak boleh makan dan minum dulu sebelum magrib” jawabku. “oh iya kaka kan kuasa”. Jawabnya sambil agak malu-malu. Dan Alhamdulillah dia dapat melanjutkan puasanya. Aku tidak memaksanya untuk puasa kali ini. Tapi aku coba untuk mengajarinya. Sampai mana kemampuannya.
Sesaat hujan pun reda, mentari menampakan wajahnya ke permukaan cakrawala. Cahanya masuk ke sela-sela balkon depan rumah kami. Rengekan minta jajan mulai meluncur dari mulut mungil Kaka Qiyan, jam baru menunjukan pukul 09.17. ”kan Kaka Kuasa” Aku coba untuk mengingatkan. “oh iya kaka kan kuasa”. Jawabnya singkat sambil menonton kembali filem kartun TV.
........
“Yah,,,, kaka mau makan” sahutnya ketika aku baru membuka pintu rumah setelah pulang shalat Jumat. “Kaka buka dulu ya,,,, nanti kuasa lagi” lanjutnya. Penyataannya itu sontak membuatku tertawa. “iya, ayo makan. Ayah panggil ibu dulu” jawabku sambil naik ke atas menuju kamarku.
Aku tidak memaksakan untuknya terus berpuasa. Jam 12.45 ia makan dan berbuka puasa untuk puasa pertamanya. Alhamdulillah dengan kesadarannya dan entah ada motivasi lain iya mau belajar berpuasa. Semoga Alloh meridoi dan menjadikannya anak yang solehah sebagaiman dengan nama yang disandangnya. Aamiin.....

1 komentar:

  1. Berlatih sejak dini..good
     Bismillah
    Rabu, 08 Juli 2020, Postingan ke-418. Mohon doanya satu hari satu postingan di blog 
    www.sarastiana.com 

    Google Adsense di Bawah 1 Dollar?
    http.sarastiana googleAdsense.com

    Metode Pembelajaran Sosiodrama
    www.sosiodrama.com

    Model dan Metode Pembelajaran http://www.modelpembelajaran

    BalasHapus